Home > Berita > Sosialisasi KEE Pantai Taman Kili-kili dan Ekowisata
Kepala Desa Wonocoyo selaku pimpinan rapat memberikan penjelasan terkait KEE. Dari kiri: Didik Herkunadi – Kepala Desa Wonocoyo, Kukuh R. – KRPH Panggul, Agus Dwi Karyanto – Camat Panggul, Eko Margono – Sekretaris Desa Wonocoyo (Foto: ARuPA)

“Terwujudnya KEE (Kawasan Ekosistem Esensial) Pantai Taman Kili-kili harus didukung banyak pihak, karena ini adalah salah satu unggulan dari Desa Wonoocoyo bahkan satu-satunya di Trenggalek.  Pada saatnya nanti KEE Pantai Taman Kili-kili dengan konservasi penyunya dan dengan didukung Pantai Pelang dan Pantai Konang  akan menjadi satu paket wisata yang mempunyai  destinasi yang berbeda dan siap menjadi tujuan wisata bagi wisatawan domestik maupun luar negeri, “ demikian sepenggal sambutan Camat Panggul, Agus Dwi Karyanto, S.STP , yang disampaikan pada acara sosialisasi KEE Pantai Taman Kili-kili menuju ekowisata.

Sosialisasi tersebut dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2021 di Balai Desa Wonocoyo Panggul Trenggalek dengan dihadiri oleh 28 orang peserta , dua diantaranya adalah perempuan. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Camat Panggul, Kepala Desa Wonocoyo, Didik Herkunadi, KRPH Panggul (Kepala Resor Pengelolaan Hutan – Perhutani), Kukuh R, BPD (Badan Permusyawaratan Desa), Suko Riswanto, LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) dan anggotanya, para pemilik Tambak dan Pokwasmas (Kelompok Pengawas Masyarakat).

Penjelasan terkait KEE oleh Tri Wahyu Almadina – Site Officer Trenggalek selaku perwakilan ARuPA (Foto: ARuPA)

Pertemuan ini juga merupakan bentuk tindak lanjut  tahapan rencana kerja yang dibahas bersama dengan tim dari EJEF (East Java Ecotourism Forum)  dalam pelatihan pengembangan ekowisata di 4 KEE di Jawa Timur yang dilaksanakan pada bulan Februari 2021. Yakni memberikan pemahaman kepada para tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh kunci  tentang pengelolaan KEE dan ekowisata kedepan.

Sosialisasi mengenai KEE dan rencana ekowisata ini khusus diberikan kepada para pesanggem yang menggarap lahan perhutani di petak 76 b dan petak 76 c dan kepada para warga masyarakat yang memiliki tambak udang di sekitar KEE.  Seperti yang telah diketahui  dalam petak tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi dari eksploitasi  terhadap sumber daya alam, diberikan mandat untuk pengawetan dan pelestarian ekosistem dan  dapat dimanfaatkan dengan mempertimbangkan kelestarian ekosistem dan berkelanjutan.

Sesi diskusi dipandu oleh Sekretaris Desa Wonocoyo Bapak Eko Margono (Foto: ARuPA)

Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang KEE dan rencana pembuatan ekowisata di Pantai Taman Kili-kili. Dalam pernyataan Camat Panggul, Ketua Pokmaswas dan dikuatkan oleh ARuPA bahwa pembuatan ekowisata di Pantai Taman Kili-kili tidak akan mengeluarkan masyarakat pesanggem dari lahan garapannya. Para pesanggem tetap bisa mengelola lahan garapan mereka seperti biasa.

“Bahkan untuk mendukung pariwisata kedepan, para penggarap  bisa lebih berinovasi lagi dalam bercocok tanam. Misalnya menanam tanaman buah-buahan di sela-sela pohon kelapa”, demikian tambahan dari Camat Panggul yang diamini oleh KRPH Panggul. Hal ini akan diujicobakan terlebih dahulu dan dikonsultasikan dengan pihak yang berkompeten mengenai  jenis  tanaman buah  yang cocok ditanam di Pantai Taman Kili-kili.

Karena ada banyak pemangku kepentingan  yang terlibat maka diperlukan pemahaman dan dukungan semua pihak agar program ini berhasil dan surat keputusan mengenai penetapan  KEE pantai Taman Kili-kili dengan nomer 188/39/KPTS/013/2020 dari Gubernur Jawa Timur , Dra. Hj. Khofifah Indar Parawangsa, M.Si.  dapat diimplementasikan dengan baik sehingga, ekosistem yang ada di Pantai Taman Kili-Kili dapat terjaga dan masyarakat disekitar mendapatkan manfaat.

Dalam sesi diskusi yang dipandu oleh sekretaris Desa Wonocoyo, Eko Margono dan Ketua Pokwasmas, Ari Gunawan,  maka dapat disimpulkan bahwa para peserta sosialisasi mendukung penuh dengan program ini yang dibuktikan dengan kesediaan penggarap lahan untuk memberi kan akses jalan yang lebih besar dan bersedia untuk tidak memperluas lahan garapan mereka sampai pada bibir pantai yang merupakan tempat pendaratan penyu (ST-AL).

Print Friendly

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*