Home > Berita > Resertifikasi VLK Kelompok Pengrajin Jogja Kayu Legal

Semilir angin pedesaan berhembus pelan, menerobos jendela-jendela tanpa kaca di sebuah resto klasik yang berada pinggir Jalan Bangunjiwo, Bantul. Tampak disamping resto yang merupakan bentangan sawah,  burung-burung kuntul beterbangan menemani para penggarap sawah dengan mesin traktor yang bergemuruh hilir mudik.

Jam menunjukan pukul 10.10 WIB terlihat  dua orang auditor dari PT Transtra telah duduk di serambi resto menikmati secangkir kopi kreamer menunggu para teman-teman pemilik dan manajemen industry kecil menengah (IKM). Hari itu, Rabu tanggal 23 Desember 2020,  adalah hari ketiga dari jadwal yang direncanakan yaitu pertemuan penutupan kegiatan verifikasi legalitas kayu (VLK) bagi Kelompok pengrajin Jogja Kayu Legal setelah dua hari sebelumnya dilaksanakan verifikasi dokumen, wawancara dan observasi lapangan di masing-masing IKM.

Kelompok Pengrajin Jogja Kayu Legal, beranggotakan industry-industri kecil menengah eksportir yang ada di Bantul yakni CV Palemcraft Jogja, CV Annacraft dan CV Nebulacraft Work,  yang pada saat ini sedang melaksanakan re-sertifikasi verififikasi legalitas kayu setelah 6 tahun lamanya mereka mengantongi Sertifikat legalitas kayu dari PT Transtra Permada. PT Transtra Permada adalah salahsatu lembaga verifikasi legalitas kayu  (LVLK) yang ada di Jogja yang diminta untuk menilai kesesuaian norma dan kondisi actual di ke 3 IKM tersebut. 

Dengan dimilikinya sertifikat VLK bagi IKM,  telah membuktikan pengakuan dari pihak ketiga terhadap kepatuhan IKM kepada aturan pemerintah dan ketertiban penatausahaan kayu yang ada di dalam manajemen IKM. Dan sertifikat legalitas kayu merupakan syarat administrasi produk-produk kayu yang akan diekspor, tanpa Sertifikat ini produk suatu IKM tidak bisa keluar dari Indonesia.

Dalam penyampaian hasil verifikasinya yang dilakukan selama 3 hari kemarin , Bp. Agus Budianto, S.Hut dan Bp. Husni Thamrin, S.Hut,  selaku auditor dari PT Transtra Permada, menyatakan bahwa ketiga IKM ini untuk sementara telah lulus dan memenuhi semua prinsip yang telah dipersyaratkan dalam standar SVLK yang diatur  dalam Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (Perdirjen PHPL) Nomor  P.14/PHPL/SET/4/2016. Sedangkan untuk resminya akan diumumkan pada bulan Januari 2021 setelah melalui para pengambil keputusan yang ada di PT Transtra Permada.  

Wajah ceria terpancar dari para IKM mendengar pengumuman tersebut. Hasil ini lah yang ditunggu-tunggu siang malam setelah mereka pada satu bulan ini berjibaku menyiapkan dokumen untuk memenuhi kelengkapan prinsip-prinsip dalam SVLK. Prinsip I yang di verifikasi adalah legalitas perusahaan. Prinsip ke dua, adalah ketertelusuran bahanbaku, prinsip ke tiga, tentang pemindahtanganan hasil hutan atau perdagangan dan prinsip yang ke 4 adalah pemenuhan hak-hak tenaga kerja dan implementasi Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3).

Bagi para IKM, memiliki SVLK adalah sebuah kebanggaan dimana mereka bisa tampil lebih percaya diri dalam kancah percaturan pengusaha furniture dan handycraft yang ada DIY maupun di tingkat nasional. Selain itu dengan penerapan SVLK di internal IKM, catatan penggunaan bahan baku dan ketertiban dalam dokumentasi di IKM bisa lebih dibaca secara runtut dengan disertai bukti pendukung pembelian bahan baku maupun pemindah tangananannya.

Harapan dari para IKM terhadap implementasi SVLK kedepan adalah, adanya pembiayaan atau subsidi dari pemerintah untuk svlk bagi mereka para UKM/IKM dan yang paling penting adalah pasar. Pemerintah bisa membantu IKM dengan membuka pasar-pasar baru di internasional bagi produk-produk IKM yang cenderung handmade dan mempunyai segmen pasar khusus sehingga bisa bersaing dengan produk-produk dari negara lain. 

Harapan diatas adalah hal yang wajar mengingat kehadiran pemerintah dan keberpihakannya terhadap industry kecil menengah terasa masih kurang. Saat para IKM telah menaati kewajiban yang diminta maka sudah sewajarnya pemerintah memberikan bantuan dan kemudahan dalam segala hal kepada para IKM mengingat kondisi dimana pada saat ini ternyata IKM-IKM lebih mempunyai daya lenting lebih besar dibandingkan dengan industry-industri besar yang berjatuhan terkena pandemic Covid 19.   (ST)

Print Friendly

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*