Home > Berita > KEE Mangrove Ujungpangkah Gresik Butuh Kolaborasi Semua Pihak

TIMESINDONESIA, GRESIK – Guna mendukung tercapainya pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial atau KEE Mangrove Ujungpangkah di Kabupaten Gresik, Jawa Timur harus ada kolaborasi semua pihak mulai masyarakat, nelayan, pemerintah, aktivis lingkungan, perusahaan dan lain sebagainya.

Maka dari itu, Lembaga ARuPA (Aliansi Relawan untuk Penyelamat Alam) bersama BBKSDA Jatim, Dishut Jatim dan dengan dukungan USAID – BIJAK menggelar pertemuan konsolidasi untuk penyusunan dokumen kelembagaan dan pengelolaan KEE MUP (Mangrove Ujung Pangkah).

Direktur ARuPA, Edi Suprapto mengatakan KEE MUP merupakan kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/309/KPTS/013/2020 atas perubahan sebelumnya.

Diskusi untuk konsolidasi dokumen kelembagaan dan dokumen pengelolaan KEE Ujung Pangkah (Foto: ARuPA)

Diungkapkan Edi, di KEE MUP memiliki nilai penting dan keanekaragaman hayati yang banyak, juga adanya ekosistem mangrove yang cukup luas dengan memiliki keanekaragaman 18 jenis mangrove.

“Selain itu, sebagai tempat hidup 73 jenis burung air baik penetap maupun jenis burung migran seperti Pelikan Kacamata dari Australia serta Berang-berang dan Monyet ekor panjang,” katanya disela kegiatan di salah satu hotel di Kabupaten Gresik pada Selasa (16/3/2021) siang.

Untuk memaksimalkan hal itu, tambah Edi membutuhkan kerja sama yang bagus dan rencana kerja yang jelas diantara para pihak yang tergabung dalam forum pengelolaan. Salah satu kegiatan ini dalam rangka memfasilitasi parapihak pengelolaan.

Dengan dilakukannya kegiatan pertemuan konsolidasi forum KEE ini, Edi berharap ke depan kinerja forum pengelola ini akan tampak dengan diberikan SK dari Gubernur serta nantinya bisa berdampak positif.

“Serta munculnya rencana kerja masing-masing anggota forum terkait pengelolaan KEE Ujung Pangkah. Ini harus ada kolaborasi semua pihak. Bahkan dalam penyusunan kinerja ini menggandeng perguruan tinggi,” tambah dia.

Pemkab Gresik Siap Mendukung

Sementara itu, Kepala Bappeda Gresik Hermanto Sianturi menambakan pihaknya bakal mendukung seluruh program untuk memajukan KEE MUP. Hal ini agar potensi yang ada bisa maksimal.

Sebelum ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial, di Ujung Pangkah sudah menjadi kawasan mangrove yang kaya keanekaragaman hayati. Bahkan, sudah menjadi salah satu destinasi wisata.

“Jadi, selain ada mangrove ternyata ada burung air dari Australia yang migrasi di KEE Mangrove Ujung Pangkah. Hal ini yang menarik dan beda serta harus dikembangkan,” tuturnya.

Herman menyatakan dalam upaya mendukung potensi yang ada, pihaknya bakal menyinergikan dengan OPD terkait. Misalnya, rehabilitasi mangrove di Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Kemudian, potensi wisata di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Lalu, pemberdayaan ekonomi di Diskoperindag.

“Tentu sinergi semua pihak akan jauh lebih baik dalam upaya meningkatkan baik segi rehabilitasi mangrove maupun lainnya, bahkan ada potensi ekonomi di sana. Di Gresik ini menariknya karena di tengah industrialisasi tapi ada KEE,” ujar dia.

Senada dengan hal itu, Kepala Desa Pangkahkulon Ahmad Fauron mengaku jika masyarakat di desanya sangat mendukung dalam rangka meningkatkan potensi di KEE MUP.

Bahkah, Fauron berharap adanya kawasan esensial ini bisa memaksimalkan pemberdayaan, sebab masyarakat di desanya menggantungkan hidupnya di Muara Bengawan Solo.

“Tentu kami mendukung, juga adanya KEE Mangrove Ujungpangkah ini bisa memberdayakan masyarakat sekitar sehingga ekonomi bisa meningkatkan,” tambah dia. (*)

Sumber: KEE Mangrove Ujungpangkah Gresik Butuh Kolaborasi Semua Pihak | TIMES Indonesia

Print Friendly

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*