Home > News > Belajar Parameter Pohon

Sebanyak 50 perwakilan kelompok tani hutan rakyat di Boyolali belajar menghitung potensi pohon. Kompetensi ini penting bagi mereka untuk memastikan kesiapan kelompok dalam bisnis kayu komunitas.

Boyolali – ARuPAnews (11/04) Beberapa studi menyebutkan bahwa dalam perdagangan kayu rakyat, pemilik hutan rakyat mendapatkan margin keuntungan yang paling rendah ketimbang makelar kayu, bakul kayu, industri pengolah kayu, penjual mebel/handicraft, dan eksportir (Purnomo 2006, Parlinah et al 2011 & 2015). Sebagai gambaran, margin keutungan petani hanya 5,6%, sedangkan eksportir mendapatkan 46,7% atau retailer kayu nasional/lokal mendapatkan 49,3% (Parlinah et al 2015).

Kecilnya keuntungan yang diperoleh petani disebabkan salah satunya karena ketidakmampuan petani dalam menghitung potensi kayu yang dimilikinya. Lazimnya yang terjadi, proses pembelian kayu oleh bakul kayu di hutan rakyat dengan sistem borongan. Misalnya petani hutan rakyat ingin menjual 10 pohon di lahan, maka bakul kayu akan menaksir dengan sepihak potesi kayu lalu langsung memberikan gambaran harga dari 10 pohon tersebut. Petani lazimnya menerima saja harga tersebut, atau paling-paling bernegosiasi sedikit agar harga 10 pohon tersebut bisa dinaikkan. Negosiasi tersebut tidaklah sebanding atau tidak apple to apple. Mengapa? Karena: 1) Taksiran volume/potensi kayu 10 pohon tersebut hanya dimiliki oleh pembeli kayu. 2) Petani tidak mempunyai dasar perhitungan volume/potensi kayu sebagai dasar negosiasi harga, 3) Perhitungan volume/potensi kayu oleh pembeli kayu tidak sesuai dengan standar ilmiah penghitungan, sehingga cenderung under estimate dari volume kayu yang sebenarnya.

Beberapa persoalan tersebut, menjadi dasar mengapa Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Boyolali menyelenggarakan “Pelatihan Penguatan dan Pembangunan Kelembagaan Kelompok Tani Hutan Rakyat Kabupaten Boyolali.” Pelatihan dilakukan 2 angkatan yaitu, angkatan pertama tanggal 6-7 April 2016 dan angkatan kedua 11-12 April 2016. Masing-masing angkatan diikuti oleh 25 orang perwakilan dari 5 kelompok tani hutan rakyat. Narasumber berasal dari berbagai instansi dan latarbelakang antara lain Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Perindustrian Boyolali, Penyuluh Perindustrian, Penyuluh Kehutanan, dan Penyuluh Ketahanan Pangan, serta menghadirkan pula Kelompok Hutan Rakyat yang sudah mantab yaitu APHR Ngudi Utomo, UD Abioso sebagai industri pengolah kayu, dan juga Lembaga ARuPA sebagai salah satu narasumber.

Pada kesempatan tersebut, LeIMG-20160412-WA0012mbaga ARuPA diberikan waktu untuk mengisi materi tentang cara menghitung potensi hutan rakyat. Dalam kesempatan tersebut, Rosikhul Ilmi yang merupakan expertice Lembaga ARuPA dalam urusan community planning menyampaikan bahwa kapasitas pemilik hutan rakyat ataupun kelompok petani hutan rakyat dalam hal penghitungan potensi kayu adalah sangat penting sekali. Kemampuan ini dapat mencegah kerugian perhitungan volume kayu dan harga kayu dalam proses transaksi kayu rakyat. Selanjutnya, jika petani mempunyai data pohon berikut potensi masing-masing pohon di petak hutannya, maka ada dasar bagi petani untuk bernegosiasi tidak hanya dengan bakul kayu namun bisa langsung bertransaksi dengan industri pengolah kayu. Selain itu, kelompok tani yang punya data pohon dapat mengajukan diri untuk diverifikasi agar bisa mendapatkan sertifikasi lestari maupun sertifikasi legalitas kayu. Bisa juga data pohon tersebut dimanfaatkan untuk mengajukan bantuan ke Badan Layanan Umum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan skema kredit tunda tebang, pengayaan tanaman atau skema-skema yang lain.

Para peserta pelatihan baik aIMG-20160412-WA0018ngkatan pertama maupun angkatan kedua diberikan materi kelas mengenai tujuan dan teknis penghitungan potensi hutan rakyat. Selain itu, para peserta diajak praktek lapangan ke hutan untuk melakukan simulasi cara melakukan inventarisasi pohon. Alat-alat yang digunakan sederhana dengan beberapa fungsinya: (1) chistenmeter: berfungsi untuk menaksir tinggi pohon; (2) Galah 4 meter: berfungsi untuk parameter taksiran tinggi pohon; (3) meteran jahit: berfungsi untuk  menghitung lingkar batang pohon dan tinggi pengukuran lingkar setinggi 1,3 meter; (4) Cat & Kuas: berfungsi untuk penomoran di pohon; (5) Kompas: berfungsi untuk menentukan arah utara dalam menggambarkan sketsa lahan dan pohon; (6) Tallysheet dan pulpen: berfungsi untuk mencatat data pohon meliputi nomor pohon, jenis pohon, tinggi dan lingkar pohon serta untuk menggambarkan sketsa lahan dan pohon.

Setelah pelatihan selesai, kendati tidak semua peserta, namun hampir 80% peserta berkomitmen untuk menghitung potensi hutan rakyat setidaknya pada miliknya masing-masing. Kepentingan dari penghitungan potensi tersebut sangat kongkrit, bahwa petani hutan rakyat mengetahui rojokoyo (harta kekayaan) yang dimilikinya di hutan rakyat. Selain itu, agar dalam transaksi kayu rakyat, para pemilik kayu dapat memberikan penawaran berdasarkan perhitungan yang dilakukan sendiri, bukan berdasarkan perhitungan sepihak dari bakul kayu. Setelah para perwakilan kelompok melakukan sendiri di lahannya, baru kemudian mereka akan mensosialisasikan serta mengajak anggotanya untuk menghitung potensi hutan rakyat pada masing-masing kepemilikan. (admin)

 

Download

Materi Presentasi Inventarisasi TegakanTallysheet Inventarisasi

 

Print Friendly

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*