Home > Berita > Ancaman perubahan iklim, ancaman serius bagi kelestarian penyu

Pemanasan global yang terjadisejak beberapa dekade terakhir telah membuat perubahan iklim yang dampaknya tidak terduga pada semua aspek kehidupan masyarakat dan tatanannya. Aspek-aspek tersebut melingkupi, aspek kesehatan, aspek lingkungan /ekosistem, aspek ekonomi dan aspek budaya.  

                Dampak perubahan iklim pada lingkungan yang kemudian akan menjadi multiplier effect contohnya, suhu udara yang semakin hangat sehingga mencairkan es yang berada di kutub bumi dan berujung pada naiknya permukaan air laut, banjir, tanah longsor. Perubahan iklim yang ekstrim bahkan ditengarai juga menjadi penyebab timbulnya disease atau wabah penyakit baru dalam masyarakat.

                Hal-hal yang sangat dirasakan oleh masyarakat, khususnya para petani yang mengalami perubahan pola tanam yang telah diterapkan selama puluhan bahkan ratusan tahun dengan ilmu “titennya”. Hama-hama baru yang muncul juga menambah keyakinan bahwa perubahan iklim sebagai pencetus hama-hama invasif, sedangkan hama-hama yang lama menjadi resisten terhadap pestisida dan semakin sulit dikendalikan. 

                Meningkatnya suhu udara yang kemudian berimbas pada kenaikan permukaan laut juga merupakan dampak yang serius bagi ekosistem yang selama ini telah ada dan berpola di lautan. Dengan keadaan yang normal, proses pembuahan alami hewan-hewan laut  dapat menjamin regenerasi dengan didukung oleh faktor-faktor alam (suhu, curah hujan dsb). Pembuahan alami ini juga akan memunculkan jenis kelamin hewan laut yang seimbang.

                Penyu adalah salah satu hewan purba yang seluruh kehidupannya dihabiskan diperairan laut dalam. Hewan ini bersifat soliter artinya mereka hidup sendiri tidak berkelompok, kadang-kadang mereka muncul dipermukaan dan setelah itu kembali menyelam di dalam laut. Penyu mencari makan di dasar laut dan bisa mengejar mangsanya hingga permukaan air laut. Hal ini lah yang sering membuat penyu terkecoh memakan plastik dan tertangkap jaring nelayan.

                Dalam siklus reproduksinya, penyu betina akan dikawini oleh penyu jantan yang mungkin lebih dari satu pejantan. Sambil berenang proses penetrasi ini berlangsung dengan durasi waktu bisa sampai 6 jam. Setelah proses perkawinan, satu sampai tiga bulan sperma-sperma penyu jantan ini disimpan dan proses pembuahan terjadi.

                Penyu betina akan ke daratan untuk meletakkan telur-telurnya. Penyu mempunyai sistem navigasi yang luar biasa, walaupun melintasi banyak samudera dengan jarak tempuh ribuan mil,  penyu-penyu ini akan kembali ke daratan dimana dia dulu menetas.    

                Setelah meletakkan telur-telurnya penyu ini akan menimbun telurnya dengan pasir pantai dan akan kembali berenang menuju laut lepas.  Penyu-penyu ini memasrahkan perkembangan telur-telurnya kepada alam. 

                Dalam kondisi normal dan selamat dari predator, telur-telur penyu yang berjumlah puluhan sampai ratusan ini akan menetas dalam waktu 2-3 bulan. Tetapi tidak semua telur akan menetas. Pada waktunya menetas, dari dalam telur-telur ini akan muncul makhluk baru yakni tukik (anak penyu).  

                 Saat seluruh telur menetas terdapat tukik jantan dan betina. Tukik-tukik ini secara alamiah akan berjalan menuju laut pada waktu gelap dengan berbekal “yolk” (cadangan pakan) yang memungkinkan penyu-penyu kecil ini hidup 1-3 hari di lautan lepas sebelum mampu mencari pakan sendiri.

                Kehidupan dan ancaman baru bagi tukik-tukik itu untuk bisa bertahan sampai dengan dewasa.  Banyak predator-predator yang siap memangsa tukik-tukik lemah ini sebelum mencapai tengah laut dan di kedalaman laut. Hanya satu persen tukik yang mampu hidup hingga dewasa. 1

                Kondisi ideal ini akan terus berlangsung selama ekosistem pantai dan habitat peneluran masih dianggap nyaman oleh penyu, mereka akan terus kembali ke pantai dan meletakkan telurnya didalam pasir.  Penyu-penyu betina ini sangat sensitif terhadap lingkungan pantai, mereka akan memilih pantai yang sepi dan gelap untuk bertelur.

                Tidak halnya dengan saat ini, dimana pemanasan global menyebabkan perubahan iklim dan suhu bumi maupun pantai menjadi berubah, hal ini sangat berpengaruh terhadap prosentase jenis kelamin penyu yang akan menetas 2.  Telur-telur penyu ini juga mengalami ancaman dari terjadinya pasang air laut, abrasi pantai yang akan menghanyutkan  telur atau membuat telur menjadi busuk (gagal menetas) dan juga mengalami ancaman dari predator.

                Berdasarkan informasi didapatkan dari berbagai sumber  jika suhu bumi panas maka prosentase jenis kelamin telur yang menetas adalah betina.  Artinya, penyu-penyu yang berada di lautan akan didominasi oleh penyu-penyu betina dan hal ini akan mengancam kelestarian populasi penyu karena berkurangnya populasi penyu jantan yang berarti regenerasi penyu gagal.

                Pantai Taman Kili Kili yang terletak di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul adalah salah satu pantai di laut selatan yang menjadi tempat persinggahan penyu untuk bertelur. Ada dua jenis penyu yang dahulu sering “mendarat” di pantai yakni, Penyu Sisik dan Penyu Lekang. Tetapi seiring dengan perubahan iklim yang terjadi dan tingginya tekanan manusia, saat ini hanya penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) yang masih kembali.  

                Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Pantai Taman Kili Kili, yang salah satunya fungsinya sebagai kelompok konservasi penyu telah mencoba melakukan intervensi pada hal tersebut diatas. Pokmaswas memindahkan telur-telur penyu ke sarang buatan yang dibuat sealami mungkin setelah penyu meninggalkan sarangnya.  

                Sarang buatan ini dipantau setiap hari dengan memberi tanda jumlah telur yang ditimbun dan tanggal penimbunan. Petugas pokmaswas akan memberikan sedikit siraman air jika suhu dalam pasir terlalu panas. Prosentase mortalitas penetasan semi alami mencapai 70%-80 %. Sedangkan sisanya 30%-20% diantaranya gagal menetas.

                Pokmaswas ini berjejaring dengan beberapa perguruan tinggi, salah satunya adalah Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Dosen dari Unibraw sering memberikan sosialisasi dan pemahaman konservasi penyu. Selain itu, dari Unibraw juga memberikan bantuan alat maticgator (alat tetas telur penyu) kepada pokmaswas. 

                Petugas pokmaswas telah mengaplikasikan alat tersebut. Dari informasi yang disampaikan oleh  petugas pokmaswas, melalui alat ini prosentase mortalitas dapat di naikkan sampai dengan 95%. Dan dengan alat ini juga bisa diatur temperaturnya sehingga bisa menyeimbangkan jenis kelamin penyu saat menetas. 3.

                Hal ini tentunya merupakan kabar yang menggembirakan bagi kelestarian penyu dimasa mendatang. Dan pada saatnya nanti, keberadaan penyu di Pantai Taman Kili Kili tidak hanya menjadi cerita atau dongeng orang tua kepada anak-anaknya. Ini merupakan tugas kita menjaga, memelihara lingkungan untuk memastikan penyu-penyu itu ”lestari dan tetap kembali”.  (ST)

Salam lestari.   

Gambar atas: Pelepasan penyu ke laut bersama masyarakat. Gambar bawah: Bak pemeliharaan penyu di kawasan konservasi penyu Pantai Taman Kili Kili.

Sumber bacaan :

1. sumber : https://www.nationalgeographic.com/environment/article/sea-turtle-sex-ratio-crisis-from-climate-change-has-hope

2. sumber  : https://www.liputan6.com/global/read/3219890/akibat-pemanasan-global-penyu-betina-lebih-banyak-dari-pejantan dan https://oceanservice.noaa.gov/facts/temperature-dependent.html

3 Sumber : wawancara dengan Pokmaswas ( Pak Ari Gunawan, Pak Eko Margono dan lain-lain)

Print Friendly

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*