Brief LKM

Disadari atau tidak sistem tebang butuh ini sangat merugikan petani hutan rakyat. “Praktik tebang butuh berpotensi merugikan petani karena harga pohon yang dijual ketika masuk masa panen jauh lebih tinggi. Untuk pohon jati berdiameter 25-30 cm saat ini bisa dibandrol Rp 1 juta per meter kubik. Namun karena kebutuhan, petani terpaksa menjual saat diameternya masih di bawah 25-30 cm. Harga yang diterima pun jauh lebih rendah,” (Siti Badriyah, Petani Hutan Rakyat). Fenomena ini menggambarkan bahwa atas nama kebutuhan yang mendesak, petani hutan rakyat rela menurunkan harga jual kayu.

LKM Tunda tebang Desa Terong yang diinisiasi tersebut adalah Koperasi Tunda Tebang (KTT) JASEMA. KTT JASEMA adalah sebuah koperasi yang dibentuk oleh anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) JASEMA untuk mengelola dana “tunda tebang”. Dana ini berasal dari patungan 554 anggota KTH JASEMA, dimana setiap orang menyetorkan uang sebesar 140.000 sebagai modal koperasi. Sehingga, terkumpul uang sebesar Rp 77.560.000,00. Dana tersebut di kelola dengan sistem simpan pinjam koperasi. Koperasi dipilih sebagai bentuk badan hukum karena masyarakat Desa Terong sudah memahami dan mengaplikasikan konsep koperasi. Selain itu, koperasi adalah lembaga ekonomi rakyat yang menggerakkan perekonomian rakyat dalam memacu kesejahteraan sosial masyarakat. Berpijak dari definisi tersebut, dapat dipahami bahwa koperasi tidak hanya bermotif ekonomi tapi juga mempunyai visi sosial.

Download –>Brief LKM

Print Friendly

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*