2

            Jam menunjukkan pukul 13.30, di rumah Pak Suratimin, tampak beberapa pemuda sedang asyik  dengan telepon pintar mereka, ada yang mengedit, menambah-mengurangi kecerahan, ada juga  membuat blur serta  menambahkan teks pada foto gelas kayu dan talenan di telepon pintar mereka.  Foto gelas kayu dan telenan ini menjadi obyek foto pada pelatihan fotografi yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD),  Universitas Tarumanagara (UNTAR) bekerjasama dengan ARuPA.

            Pelatihan yang dimulai pukul 12.30 ini  merupakan tindak lanjut dari kegiatan yang telah dilakukan oleh FSRD UNTAR di Desa Semoyo hampir dua tahun  dan secara bertahap  sesuai dengan perencanaan,  pada saat ini para pengrajin mempraktekkan tehnik fotografi untuk produk kerajinan kayu.  Pelatihan ini dilatar belakangi oleh foto-foto produk yang diunggah oleh Pak  Suratimin dimedia social untuk dipasarkan tetapi secara kualitas gambar dan estetika belum menarik. Hal ini tentunya  akan mempengaruhi calon pembeli dalam memutuskan pembelian produk kerajinan dari pengrajin di Desa Semoyo.

            Berangkat dari hal diatas, pada pelatihan yang dilaksanakan pada 04 Mei 2019 ini, para peserta diajari untuk menggunakan kamera yang terintegrasi di telepon pintar yang mereka miliki yang langsung terhubung dengan media sosial. Selain tergantung dengan kecanggihan telepon pintar yang dimiliki (spesifikasi kamera, RAM dsb) tehnik dan pengetahuan tentang obyek dan sarana pendukungnya (asesoris) ternyata menentukan kualitas dan tajam gambar.

            Bu Ika dan Pak Budi, dosen di UNTAR yang juga sebagai narasumber pada pelatihan, memberikan dasar-dasar teori pengambilan gambar yang baik, dengan komposisi, pencahayaan dan angle obyek. Gambar-gambar  yang bertebaran  di medsos merupakan hasil jepretan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh pengrajin, demikian ungkap beliau berdua. Ada beberapa perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendukung foto produk dari pengrajin diantaranya adalah kebutuhan pencahayaan sempurna yang bisa diantisipasi dengan penggunaan tempat yang disulap menjadi studio foto dengan tambahan lampu dan reflektornya.

            “Untuk mengambil foto produk yang berukuran kecil, dapat dilakukan mandiri di rumah masing-masing dengan alat sederhana,” kata Pak Budi. Dalam hal ini, Bu Ika dan Pak Budi memperkenalkan dan membawakan alat “minibox studio” dimana alat ini bisa menjadi studio foto mini dengan kapasitas obyek yang akan difoto berukuran kecil dengan hasil foto yang maksimal. Alat ini portable dan bisa dilipat dan di masukkan dalam tas dan dilengkapi dengan lampu pita led yang bisa disambungkan powerbank untuk mendukung pencahayaan. Peserta juga dapat membuat sendiri studio mini ini dengan kardus bekas yang dilapisi kertas putih.

            Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan Tehnik editing oleh Bu Rahma, Ketua  HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia) cabang Semarang. Beliau menyarankan  untuk lebih mempertajam obyek foto dengan menggunakan aplikasi Snapseed yang harus diunduh di telepon pintar yang dimiliki peserta.  Tampak jelas, perbedaan hasil jepretan yang hanya menggunakan kamera  tanpa diedit dengan hasil editing menggunakan aplikasi tersebut.  Foto produk terkesan lebih tajam, menonjolkan karakater  dan yang paling penting bisa langsung diunggah di media sosial untuk dipasarkan.

            Pelatihan fotografi yang juga dihadiri oleh Bpk. Heryadi dari LEI (Lembaga Ekolabel Indonesia)  dan Sugeng Triyanto dari ARuPA (Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam)  ini menambah semangat dari Pak Suratimin dan para peserta yang lain untuk terus berkarya dan mampu menunjukkan produk dari hutan rakyat yang tidak kalah bersaing dengan industry lain.

            Dalam pernyataannya, Pak Suratimin mengatakan, “Hal ini (pelatihan fotografi :red) sangat penting buat kami, karena kami juga baru sadar ternyata dengan sedikit sentuhan pengeditan dan perlengkapan akan mempengaruhi gambar yang kami unggah di media social”.  “Kami akan terus berusaha untuk menggiatkan para pemuda-pemuda untuk berinovasi dan berkreasi dengan modal potensi hasil hutan kayu yang dimiliki dengan didukung telepon pintar yang langsung terhubung ke seluruh dunia,” imbuh pria yang juga merupakan pengawas kelompok SPP (Serikat Petani Pembaharu) di Desa Semoyo ini. (ST)

 

Print Friendly

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*