publish

Setelah melakukan studi lapangan di Indonesia beberapa saat yang lalu, utamanya ke beberapa kelompok dampingan Lembaga Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA) di daerah Boyolali dan Bantul, Multipihak Kehutanan dari Thailand memberikan komentarnya mengenai perjalanan tersebut.

Melalu surat eletronik yang dikirimkan pada Selasa, 26 Januari 2016, Warangkana Rattanarat, Koordinator Program RECOFTC – Thailand, menyebutkan bahwa dirinya terkesan mengenai kinerja dan strategi yang dilakukan oleh Lembaga ARuPA di lapangan.

“We all were impressed by the strategy and role that ARuPa performed in the field. This seemed that the potential gaps in which smallholders/SMEs may face in complying with SVLK system could be fulfilled with the support of ARuPA,” tulis Rattanarat. 

(Kami semua terkesan dengan strategi dan peran yang dilakukan Lembaga ARuPA di lapangan. Ini tampak bahwa kesenjangan potensial di mana petani / UKM dapat menghadapi dalam mematuhi sistem SVLK dapat terpenuhi dengan dukungan)

It is a big learning for many of us and we want to take this example to help organize farmers in Thailand in order for them to be able to participate in the timber business effectively,” lanjutnya lagi.

(Ini adalah pembelajaran besar bagi banyak untuk kami, dan kami ingin mengambil contoh ini untuk membantu mengorganisir petani di Thailand agar mereka dapat berpartisipasi dalam bisnis kayu secara efektif)

Setelah studi lapangan ini sendiri, Rattanarat akan melakukan pertemuan untuk mengupas kunjungan ini dan membagi pengalaman tersebut kepada para anggota lainnya.

“We organized a review meeting after the trip on 29 Jan and shared the experience to the core members of the network. We are also going to write a trip report as well a short VDO clip to explain the SVLK system. We have already used stories that we had seen and learned from the trip to share with our government/FLEGT counterparts to explain the possibility for having good system that smallholders and SMEs could engage and benefit,”terangnya.

(Kami mengadakan rapat peninjauan setelah perjalanan pada 29 Jan dan berbagi pengalaman dengan anggota inti dari jaringan. Kami juga akan menulis laporan perjalanan serta membuat sebuah video klip pendek untuk menjelaskan sistem SVLK. Kami menggunakan cerita yang telah kamilihat dan pelajari dari perjalanan ini  untuk berbagi dengan pemerintah kami/ FLEGT mitra kami untuk menjelaskan kemungkinan untuk memiliki sistem yang baik yang petani kecil dan UKM bisa terlibat dan mendapat manfaat)

Seperti diberitakan sebelumnya, kunjungan multipihak kehutanan dari Thailand ini merupakan rangkaian dari perjalanan mereka ke Indonesia untuk mempelajari mengenai SVLK yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan adanya kesenjangan pemahaman yang cukup jelas diantara pemangku kepentingan VPA, terkait praktik pelaksanaan SVLK, peranan yang berbeda dari para pemangku kepentingan dan juga keterlibatan multipihak bisa tercapai di Thailand.

Sejak 2013 lalu, Thailand sendiri memasuki proses negosiasi dengan Uni eropa untuk ikut terlibat EU FLEGT VPA. Walaupun ada tantangan dari sisi politikm proses tersebut secara bertahap sudah dimulai. Isu utama yang sedang dikerjakan oleh semua pihak di Thailand sendiri adalah mengenai definsi legalitas (LD – Legality Definition). Agar memahami hal tersebut, mereka melakukan studi lapangan ini.

Print Friendly

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*