Rencana Hutan

Rencana Hutan

Saat ini keberadaan hutan rakyat, yang dibangun masyarakat di lahan milik, telah dirasakan cukup berarti dalam sumbangannya terhadap perbaikan kondisi lingkungan hidup. Pembangunan hutan rakyat telah mengubah kondisi regional yang kering, panas dan gersang menjadi hijau, subur dan sejuk. Hutan rakyat juga cukup memberi dampak dalam penurunan emisi gas rumah kaca, karena tanaman/ pohon pada hutan rakyat melakukan proses fotosintesa yang salah satu unsur yang dibutuhkan dalam proses tersebut adalah karbon, dan kemudian karbon tersebut disimpan oleh tanaman dalam bentuk selulosa dan menjadi biomasa hutan.

Bagi pemiliknya, hutan rakyat merupakan bagian penting dalam kehidupan mereka. Pola pemanfaatan dan interaksi masyarakat desa hutan dengan hutan rakyat cukup beragam dan berbeda-beda satu sama lain, tergantung kondisi kesuburan tanah, kultur masyarakat secara umum, dan kebijakan lokal kabupaten yang terkait dengan pembangunan hutan rakyat. Namun demikian secara umum teridentifikasi bahwa hutan rakyat memegang peran penting dalam kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat desa hutan.

Beberapa karakter umum pengelolaan hutan rakyat ditinjau dari aspek manajemen hutan adalah:
1. Berada di tanah milik yang dijadikan hutan dengan alasan tertentu, seperti lahan yang kurang subur, kondisi topografi yang sulit, tenaga kerja yang terbatas, kemudahan pemeliharaan, faktor resiko kegagalan yang kecil dan lain sebagainya.
2. Hutan tidak mengelompok, tetapi tersebar berdasarkan letak dan luas kepemilikan lahan, serta keragaman pola wanatani.
3. Basis pengelolaan berada pada tingkat keluarga, setiap keluarga melakukan pengembangan dan pengaturan secara terpisah.
4. Pemanenan dilakukan berdasarkan sistem tebang butuh, sehingga konsep kelestarian hasil belum berdasarkan kontinuitas hasil yang dapat di peroleh dari perhitungan pemanenan yang sebanding dengan pertumbuhan (riap) tanaman.
5. Belum terbentuk organisasi yang profesional untuk melakukan pengelolaan hutan rakyat.
6. Belum dokumen Rencana Kelola Hutan Rakyat, sehingga tidak ada petani hutan rakyat yang berani memberikan jaminan terhadap kontinuitas pasokan kayu bagi industri.
7. Mekanisme perdagangan kayu rakyat di luar kendali petani hutan rakyat sebagai produsen, sehingga keuntungan terbesar dari
pengelolaan hutan tidak dirasakan petani hutan rakyat.

Karakter-karakter tersebut sangat mengisyaratkan rentannya Rencana Kelola KTH JASEMA Tahun 2015 kelestarian hutan rakyat akibat adanya peningkatan kebutuhan industri berbasis kehutanan, terutama bahan baku kayu. Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan dan mendorong pengelolaan lestari maka ada kebutuhan menyusun Rencana Kelola Hutan Rakyat KTH JASEMA DESA TERONG 2015. RKTHR ini disusun dengan metode partisipatif berdasar pengalaman, kebutuhan dan harapan masyarakat Desa Terong. Rencana Kelola ini akan digunakan sebagai pemandu KTH Jasema dalam Pengelolaan Hutan Rakyat tahun 2015.

Download –> Rencana Hutan gabungan

Print Friendly

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*